Memuat SIPILAR
DPMPTSP Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Blora Jl. Pemuda No. 1, Blora, Jawa Tengah
Logo SIPILAR
DPMPTSP Kabupaten Blora Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah

Profil Daerah

Profil Daerah

Geografis dan Iklim

Geografis dan Iklim

Infografis Geografis dan Iklim Kabupaten Blora

Rangkuman data resmi Pemerintah Kabupaten Blora, BPS Kabupaten Blora, BMKG, dan BPBD Kabupaten Blora. Seluruh angka dapat ditelusuri ke sumber di bagian bawah artikel.

Kabupaten Blora adalah kabupaten di ujung timur Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur. Wilayahnya tidak memiliki garis pantai, terjepit dua rangkaian perbukitan kapur, dan hampir separuh luasnya berupa hutan jati. Kombinasi itulah yang membentuk karakter geografis sekaligus persoalan iklim khas Blora: basah dan subur pada November–April, lalu kering dan rawan krisis air bersih pada Mei–Oktober.

Luas wilayah
1.955,82 km²
5,59% luas Jawa Tengah · terluas ke-3 di provinsi
Pembagian wilayah
16 kecamatan
24 kelurahan & 271 desa
Ketinggian
20–280 m dpl
Terendah Cepu · tertinggi Todanan
Kawasan hutan
49,66%
Hampir separuh wilayah, didominasi jati

1. Letak, batas, dan luas wilayah

Secara astronomis Kabupaten Blora terletak pada 111°016′ – 111°338′ Bujur Timur dan 6°528′ – 7°248′ Lintang Selatan, sebagaimana tercantum di laman Kondisi Geografis Pemkab Blora. Batas wilayahnya: utara Kabupaten Rembang dan Pati; timur Kabupaten Bojonegoro dan Tuban (Jawa Timur); selatan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur); barat Kabupaten Grobogan.

Luas wilayahnya sekitar 1.955,82 km² atau 5,59 persen dari luas Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.1.1-6117 Tahun 2022 yang dipakai BPS, Blora merupakan kabupaten terluas ketiga di Jawa Tengah, meliputi 16 kecamatan, 24 kelurahan, dan 271 desa. Kecamatan terluas adalah Randublatung (235,92 km² atau 12,06 persen wilayah kabupaten), disusul Jati 215,38 km² dan Jiken 165,40 km².

Peta administrasi Kabupaten Blora

Peta administrasi Kabupaten Blora. Sumber: penataanruangjateng.info via Wikimedia Commons (domain publik, Pasal 43 UU No. 28 Tahun 2014).

Catatan perbedaan data. Dokumen lama Pemkab Blora masih mencantumkan luas 1.820,59 km² (182.058,797 ha) dengan Randublatung seluas 211,13 km². Angka yang lebih baru (1.955,82 km²) mengacu pada Kepmendagri 100.1.1-6117/2022 yang dipakai BPS. Bila mengutip, sebutkan tahun dan sumbernya.

2. Topografi dan geologi

Wilayah Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20–280 meter di atas permukaan laut. Titik terendah berada di Kecamatan Cepu dan tertinggi di Kecamatan Todanan, dengan kemiringan lahan dari 0 persen hingga lebih dari 40 persen. Blora berada di antara Pegunungan Kendeng Utara dan Pegunungan Kendeng Selatan, serta dilalui Bengawan Solo dan Sungai Lusi.

  • Susunan tanah terdiri atas 56 persen grumusol, 39 persen mediteran, dan 5 persen aluvial.
  • Terdapat Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo seluas kurang lebih 753 hektare di Kecamatan Kunduran dan Todanan.
  • Batu gamping tersebar di sembilan kecamatan: Todanan, Jiken, Jepon, Japah, Tunjungan, Blora, Bogorejo, Randublatung, dan Kradenan.

Tanah kapur inilah yang membuat jati Blora terkenal berkualitas tinggi, sekaligus membuat wilayah ini sulit menyimpan air tanah saat kemarau.

3. Penggunaan lahan: separuh wilayah adalah hutan

Hutan 49,66% Sawah 25,38% Lainnya 24,96%

Hutan 49,66% (hutan negara dan hutan rakyat) · Sawah 25,38% · Lainnya 24,96% (pekarangan, tegalan, waduk, dan perkebunan rakyat).

Sawah terluas berada di Kecamatan Kunduran (5.559,22 ha) dan Kecamatan Kedungtuban (4.676,76 ha). Areal hutan terluas ada di Randublatung, Jiken, dan Jati, masing-masing melebihi 13.000 hektare. BPS Kabupaten Blora mencatat pada 2023 luas kawasan hutan produksi mencapai 90.760,08 hektare atau sekitar 16,48 persen dari total hutan produksi Jawa Tengah, dengan produksi kayu jati sebanyak 81.862,66 meter kubik.

4. Iklim: tropis tipe sabana (Aw)

Blora mengenal dua musim yang digerakkan angin monsun: musim hujan (November–April) dipengaruhi monsun baratan, dan musim kemarau (Mei–Oktober) dipengaruhi monsun timuran. Suhu udara rata-rata 23–35 °C dengan kelembapan 60–90 persen.

Normal curah hujan bulanan, 1991–2020
Januari
   
278 mm
Februari
   
262 mm
Maret
   
245 mm
April
   
208 mm
Mei
   
89 mm
Juni
   
56 mm
Juli
   
28 mm
Agustus
   
19 mm
September
   
40 mm
Oktober
   
117 mm
November
   
247 mm
Desember
 
281 mm

Biru = musim hujan, oranye = musim kemarau. Total setahun 1.870 mm dengan 87 hari hujan. Bulan terbasah Desember (281 mm), terkering Agustus (19 mm).

Bulan Curah hujan (mm) Hari hujan Suhu rata-rata (°C) Suhu maks (°C) Kelembapan (%)
Januari 278 13 26,1 30,3 84
Februari 262 12 26,1 30,3 85
Maret 245 11 26,4 30,8 83
April 208 10 26,7 31,1 81
Mei 89 5 26,7 31,4 79
Juni 56 3 26,2 31,0 76
Juli 28 2 26,5 31,8 72
Agustus 19 1 27,0 32,8 69
September 40 2 27,7 33,8 71
Oktober 117 6 27,8 34,2 73
November 247 10 26,7 33,6 77
Desember 281 12 26,5 31,6 82
Setahun 1.870 87 26,7 31,89 77,7

Sumber: BMKG, Buku Peta Rata-Rata Curah Hujan dan Hari Hujan Periode 1991–2020.

5. Dampak nyata: kekeringan hampir tiap tahun

Batuan kapur, kawasan karst, dan posisi di cekungan Pegunungan Kendeng membuat Blora langganan krisis air bersih setiap kemarau. Pada musim kemarau 2026, BPBD Kabupaten Blora memetakan 149 desa/kelurahan di 15 kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih dan hanya satu kecamatan yang dinyatakan aman.

Pemetaan BPBD Blora, kemarau 2026
  • Terparah: Kecamatan Jati (Desa Pengkol dan Jagung), lalu hampir seluruh desa di Kecamatan Banjarejo.
  • Pemetaan dilakukan sejak Juli 2026; kemarau diprediksi berlangsung hingga November 2026.
  • Kapasitas distribusi turun dari 1.300 menjadi sekitar 1.000 tangki: 313 tangki dari APBD Kabupaten Blora dan 156 tangki bantuan pihak lain.
“Kekeringan yang paling parah itu Kecamatan Jati, desanya Pengkol dan Jagung. Berikutnya Kecamatan Banjarejo, hampir semua desa mengalami kekeringan yang parah.”
— Widodo, Kepala Pelaksana BPBD Blora, 1 September 2026

Prakiraan BMKG untuk musim hujan 2024/2025

Periode Curah hujan Sifat hujan
Oktober 2024 Menengah, 101–200 mm/bulan Normal – Atas Normal
November 2024 Menengah, 201–300 mm/bulan Normal
Desember 2024 Menengah–Tinggi, 201–400 mm/bulan Normal
Januari 2025 Menengah, 201–300 mm/bulan Normal
Februari 2025 Menengah, 201–300 mm/bulan Normal
Maret 2025 Menengah, 151–300 mm/bulan Normal – Atas Normal

Dipaparkan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah pada Rakor Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan, 24 Oktober 2024, di Setda Kabupaten Blora. Sebagai pembanding, data BPBD Blora menyebut pada 2023 terdapat 185 desa terdampak kekeringan.

Ringkasan angka kunci

Luas wilayah ±1.955,82 km² (5,59% Jawa Tengah), terluas ke-3 di Jateng
Pembagian wilayah 16 kecamatan, 24 kelurahan, 271 desa
Kecamatan terluas Randublatung (235,92 km²)
Ketinggian 20–280 m dpl (terendah Cepu, tertinggi Todanan)
Tipe iklim Tropis sabana (Aw), dua musim
Curah hujan tahunan 1.870 mm, 87 hari hujan
Suhu rata-rata 26,7 °C (rentang harian 23–35 °C)
Kawasan hutan 49,66% wilayah; hutan produksi 90.760,08 ha (2023)
Desa rawan kekeringan 2026 149 desa/kelurahan di 15 kecamatan

Sumber

  1. Pemerintah Kabupaten Blora — Kondisi Geografis
  2. Pemerintah Kabupaten Blora — Kondisi Wilayah Kab. Blora
  3. BPS Kabupaten Blora — Data Strategis Kabupaten Blora 2023/2024
  4. BPS Kabupaten Blora — Hari Hutan Sedunia, 21 Maret 2024
  5. BMKG — Buku Peta Rata-Rata Curah Hujan dan Hari Hujan Periode 1991–2020
  6. BPBD Kabupaten Blora — Rakor Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan 2024/2025
  7. Harian Muria — 149 Desa di Blora Berpotensi Alami Krisis Air Bersih, 1 September 2026
  8. Wikipedia bahasa Indonesia — Kabupaten Blora (kompilasi normal iklim BMKG)
  9. Peta administrasi: penataanruangjateng.info via Wikimedia Commons (domain publik)